03 Sep 2026 · 13 dilihat

Sejarah Menwa: Dari Asuhan Militer Menjadi UKM Kampus (Part-1)

Sejarah Menwa: Dari Asuhan Militer Menjadi UKM Kampus (Part-1)

KAMP - Cikal bakal Resimen Mahasiswa (Menwa) lahir di tengah krisis politik dan kekacauan akibat berbagai pemberontakan daerah pada akhir dekade 1950-an. Merespons kondisi keamanan yang tidak stabil tersebut, pemerintah Indonesia menetapkan status darurat perang sejak tahun 1957. Dalam situasi darurat ini, cikal bakal Menwa mulai terbentuk melalui langkah-langkah berikut:

  1. Inisiasi Program Wajib Latih (Wala) di Jawa Barat (1959) Untuk menghadapi ancaman gangguan keamanan dari gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Panglima Kodam Siliwangi Kolonel Raden Ahmad Kosasih memprakarsai program pelatihan kemiliteran bagi mahasiswa yang dinamai Wajib Latih (Wala). Program ini dirancang bukan sebagai wajib militer, melainkan sebagai pendidikan pendahuluan mengenai pertahanan rakyat.
  2. Pembentukan Batalyon Mahasiswa Pertama Proses seleksi Wala dimulai pada Juni 1959 dengan pemusatan latihan di Lapangan Diponegoro, Bandung. Mahasiswa menjalani latihan fisik dan kedisiplinan selama 4 jam sehari, 6 kali seminggu, dalam jangka waktu 20 minggu. Lulusan pertama dari program ini kemudian dikelompokkan menjadi Batalyon Mahasiswa yang terbagi ke dalam 6 kompi. Keberhasilan program ini mendapat apresiasi langsung dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution serta Presiden Sukarno.
  3. Momentum Kampanye Trikora (1961) Ketika eskalasi politik luar negeri meningkat terkait perebutan Irian Barat, Presiden Sukarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada Desember 1961. Mayjen Nasution merespons kebijakan ini dengan mengeluarkan Surat Keputusan No. MI/B/00307/1961 untuk memperluas program Wala ke seluruh Komando Daerah Militer (Kodam) di Indonesia dengan melibatkan perguruan tinggi setempat.
  4. Peresmian Secara Nasional (1963) Pada 24 Januari 1963, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) No. M/A/20/63 antara Wakil Menteri Pertama Urusan Pertahanan/Keamanan dan Menteri Perguruan Tinggi. SKB ini menjadi tonggak sejarah yang resmi memasukkan latihan pertahanan ke dalam kurikulum perguruan tinggi sekaligus menginstruksikan pembentukan Resimen Mahasiswa (Menwa) di setiap universitas.

Setelah Irian Barat berhasil dibebaskan, organisasi Menwa tetap dipertahankan dan posisinya kian menguat dalam konstelasi politik nasional, terutama ketika ketegangan antara Angkatan Darat dan PKI memuncak menjelang tahun 1965

Sumber : 
Disadur dari :

tirto.id - Sosial Budaya Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi